Postingan

Sebuah Pengingat

Den, jika hatimu dipenuhi dengki, kebaikan sekecil apapun takkan ternilai. Sementara menjelekan yang lainnya juga tak mengubah apapun kecuali mengotori hatimu. Satu yang pasti bahwa setiap kita tumbuh malalui proses. Terbentur sana sini. Bonyok dan lebam jadi hal yang pasti.  Manusia salah itu ya wajar karena bukan malaikat, kan? Sekelas nabi Musa A.S aja pernah berbuat salah dan dimarahi Allah karena menolak membimbing taubatnya seorang pelacur. Yang salah adalah yang tidak berbuat, hanya mengamati, menonton, lalu membabi buta mengumbar kesalahan sana sini. Alih-alih mengkritisi justru memperkeruh keadaan yang sedang carut. Yok istighfar, Den.

Kritik untuk Si Anak Webinar

Selalu banyak cara untuk belajar. Di tengah kondisi pandemik seperti ini mengadakan diskusi tipis-tipis tatap muka secara langsung rasa-rasanya kurang memungkinkan ya. Mengingat kondisi dan resiko terpapar virus corona bisa menjangkiti siapapun yang sedang bertatap muka. Apalagi ada beberapa diantara kita yang terjangkit virus corona tetapi dengan kondisi tanpa gejala. Ya itu tuh orang-orang yang nggak pilek, nggak batuk, tapi napasnya ada aura-aura wisma atlit Kemayoran . Hmm jangan lupa pake masker, kawan. Ketika pertemuan dibatasi, webinar menjadi salah satu alternatif cara pembelajaran yang kini marak digaungkan. Mulai dari isu hangat perpolitikan, sampai isu tidak populis seperti pendidikan dan filsafat juga acapkali diperbincangkan melalui webinar.  Semua-semuanya serba webinar. Bahas arah politik Jokowi-Prabowo melalui webinar. Bahas dampak buruk pembelajaran dari rumah melalui webinar. Bahas faktor penyebab bayi mencret-mencret juga diwebinarkan. Saya baru mengenal istilah...

Orang Tua Sebaik-baiknya Penawar Letih

Ketika merasa letih dengan proses pendewasaan diri, selalu teringat ibu dan bapakku pasti lebih letih mendewasakanku. Ketika anaknya merasa patah, ibu dan bapakku yang memelihara do'a di sepertiga malamnya, agar anaknya tetap berupaya Ketika anaknya merasa terasing dengan dunianya, ibu dan bapakku yang meyakini, bahwa hari esok kan baik-baik saja. Rabb, maafkan jika jiwa yang lemah ini tak cukup berbakti, tak cukup untuk menjadi pemberat amal kedua orang tuaku kelak. Mereka baik, kelak tempatkan keduanya di tempat yang terbaik, yang engkau sukai, yang engkau ridhoi.

Menjaga Ritme Pertemanan

Saya menulis tulisan ini di hari Jumat selepas saya mengajar daring.  Tepat seminggu yang lalu, saya yang terhitung jarang mengakses akun instagram pribadi kecuali untuk memamerkan kegelisahan dan ketidakgantengan saya, akhirnya membuka akun instagram pribadi saya. FYI, saya punya akun instagram lain yang following saya kebanyakan bercerita tentang hidup sehat (baca: pola hidup supaya langsing), info disabilitas, info lomba menulis, akun-akun ikan hias, dan terakhir akun-akun yang bercerita tentang hidroponik. Dan, akun ini yang sering saya buka daripada akun pribadi saya. Setelah saya login, saya lihat beberapa postingan teman-teman, ternyata tidak ada yang menarik dan tidak ada yang berubah. Diantara mereka memamerkan kebahagiaan, sebagian lainnya bercerita tentang jalan-jalan. Mungkin memang instagram dirancangan menjadi wadah unjuk kebahagiaan, alias pamer. Lalu karena saking nganggurnya, saya iseng membuka beberapa instastory teman, kerabat. Saya menemukan akun teman dekat, se...

Teruntuk Ibu, Terima Kasih untuk Segalanya

Awal September kemarin jadi penanda hari baru. Setelah 37 tahun lamanya banting tulang, terik dan panas, hujan dan mendung dilewati demi kami, mama memasuki purna bakti. Ketika kami tumbuh menjadi dewasa, kami baru tahu hidup kadangkala terasa perih, kami juga tahu hidup juga tak selamanya indah. Saat itu juga kami tahu, bahwa ada upaya yang amat keras yang dilakukan seorang ibu kala menghadapi itu semua. Semata-mata dilakukan untuk keluarga agar kehidupan menjadi lebih baik setiap harinya. Kami, kedua anakmu jadi saksi betapa kerasnya ibu menghidupi kami. Saat kami sedang nyenyaknya-nyenyaknya tidur, ibu sudah terjaga, memanjatkan doa terkhusyuk sebelum hari bermuara.  Selepasnya, ibu harus menahan dingin mempersiapkan segalanya, agar tanggung jawab pekerjaan dan tanggung jawab sebagai ibu rumah tangga berjalan beriringan. Selepas adzan subuh, ibu sudah di kereta, berkerumun dengan pejuang lainnya semata-mata untuk kami. Maka di hari ini, izinkan kami untuk mengucapkan terima k...

Kalah ketika Kuliah

Muhamammad Ibrahim atau biasa dikenal di antara kami dengan panggilan Baim adalah salah seorang rekan kami di rumah. Belum lama ini ia memilih untuk tidak meneruskan kuliahnya ketika sudah berjalan sejauh empat semester. Bukan bidang yang menjadi ketertarikannya dalihnya.  Kini di antara kami sibuk menghardik Aim. Dengan becandaan ala anak tongkrongan , beberapa di antara kami menjuluki Aim sebagai cikal bakal pengangguran abadi. Beberapa lainnya bahkan terang-terangan menyebut Aim tidak tahu diuntung. Dengan kondisi orang tuanya yang berkecukupan, rasa-rasanya alasan berhenti kuliah karena terhalang biaya tidak jadi relevan. Tidak seperti teman-teman lainnya yang rasa-rasanya kuliah bukan lagi sebuah mimpi, kuliah hanya sebatas angan-angan karena kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan. Saya cukup akrab dengan Aim. Bahkan beberapa kali terlibat pekerjaan lepas bersama. Kedekatan tersebut saya manfaatkan barangkali sekadar menjadi teman cerita.  Pada suatu malam...

Sekelumit Manusia Beruntung

Gambar
  Terngiang betul ucapan ibu kala berceloteh tentangku di depan sanak saudaranya yang tak lain adalah bude pakde.  "Denny itu tidak pintar, hanya beruntung", ujarnya.  Aku yang merasa telah bersusah payah untuk menyelesaikan studi strata 1, dengan logika sumbu pendek seketika tersinggung dengan ucapan ibu ketika itu. Terngiang dan terngiang sampai terpikir, "apa aku kurang cukup membanggakan bagi kedua orang tuaku?" Sebulan, dua bulan, bahkan hingga enam bulan berlalu menjalani getir dan perihnya hidup menjadi orang dewasa, rasa-rasanya ucapan ibuku benar adanya. Betapa berulangkali diuji dan dicambuk oleh kehidupan dan betapa berungkali juga Allah bantu dan selamatkan. Bukan karena kepintaran, tapi semata-mata karena keberuntungan yang maha kuasa beri. Jika boleh jujur, setiap fase sulit yang saya hadapi, saya merasa tidak berjuang sedemikian adanya untuk menyelesaikannya. Saya juga tidak merasa berupaya sampai-sampai "banting tulang". Berangkat...