Postingan

Ayah, Ibu Maaf untuk Segalanya

Gambar
Pagi tadi, di tengah menyimak bacaan surat al- A'la yang dilantunkan imam di rokaat pertama sholat Id, seketika selintas muncul wajah ibu dan ayah.  Jika dihitung sejak akil baligh, mungkin sudah 20 kali banyaknya ku sholat idul fitri, tapi baru kali ini wajah keduanya hadir meracau ditengah-tengah sholat. Terbayang, bahu legam saksi kerja keras ayah sudah sedikit membungkuk. Terlihat pula keriput menghiasi wajah ibu yang menandai semakin menua keduanya. Seketika, dibalik masker yang menutup mulut hidung, air mata tak bisa saya bendung. Saya menangis sesenggukan. Tetesannya membasahi masker yang ayah saya ingatkan untuk tak luput dibawa ke masjid.  Saya menangis lirih, takut, satu yang saya khawatirkan, bagaimana jika idul fitri ini jadi lebaran terakhir kami untuk bersama? bagaimana jika idul fitri ini jadi momen tak berulang lagi dikemudian hari? bagaimana jika tak ada lagi kesempatan seoarang anak meminta maaf atas kubangan dosanya terhadap orang tua? bagaimana jika satu di...

Kemana Perginya Hal-hal Tabu?

Gambar
Sekarang kita tidak perlu terlalu memikirkan hal-hal yang ditabukan, sebagaimana pada dekade-dekade atau generasi sebelumnya. Kata tabu sendiri sudah jarang terdengar lagi, karena tinggal sedikit hal-hal tabu yang tersisa.  Hidup di zaman penuh keterbukaan, begitu banyak batasan yang sudah tersingkir. Coba nyalakan remote televisimu lalu amati. Televisi terasa begitu jahat, menampilkan borok kehidupan masing-masing pelakunya. Surat kabar dikuasai partai politik. Berita yang disajikan bergantung pada kepentingan pemiliknya. Media sosial apalagi. Media sosial menjadi media paling ampuh yang menjangkau pelosok negeri namun juga membuka tabir-tabir yang selama ini dianggap tidak patut diperbincangkan.  Dunia nyata juga demikian. Periode lalu perkumpulan tongkrongan anak muda diisi dengan obrolan universal tentang musik, film, gosip terhangat yang terjadi di lingkungan sekitar, tempat wisata privasi yang belum banyak di datangi orang, atau bahkan obrolan popular sejak jaman bapak s...

Egi Lupa untuk Melupa

Gambar
                      via medium.com Senin, menjadi sesuatu yang memuakkan bagi mereka-mereka yang menemukan neraka kecil bernama tempat kerja. Begitu juga dengan Egi. Meskipun setiap bulan biaya hidupnya dan empat anggota keluarga lainnya berasal dari penghasilan di tempat kerjanya tersebut, tapi memaki tempat kerjanya sendiri adalah suatu kebiasaan yang ia lakukan ketika dia didera bertubi-tubi tugas dengan batas waktu yang mencekik hampir bersamaan. Ketika bangun tidur, membuka matanya, yang ia lakukan pertama kali ada mengembuskan napasnya dalam-dalam lalu menggumam, "anjing, udah Senin aja, perasaan Sabtu-Minggu cepet banget, ngehe". Egi peregangan sedikit lalu beranjak dari kasurnya, seketika terbayang wajah pimpinan visioner dengan sejuta ide tapi tidak manusiawi. Pimpinannya merupakan sosok idealis dan kreatif. Setiap kali pimpinannnya mendapat tugas dinas luar selalu bermunculan ide baru yang diterapkan di tempat kerjanya. ...

Pekerjaan yang Baik

Gambar
Jam tujuh pagi. Seorang guru datang ke sekolah dengan seragam biru dongker kebesarannya, bersepatu pantofel, menenteng tas dengan setumpuk buku juga alat elektronik penunjang berupa laptop di dalamnya. Bersamaan dengan itu, seorang ibu penjaja nasi uduk, berkaus, sandal jepit, menenteng setoples kerupuk dan membawa senampan gorengan yang baru saja matang. Manakah pekerjaan yang lebih baik?  via cerpen.co.id Jam delapan pagi. Seorang kasir sebuah retail terkemuka di negeri ini datang ke toko, rapi dengan rambut berpomade, berdiri di balik meja kasir menanti setiap orang yang datang untuk membeli beraneka ragam barang yang menjadi kebutuhan hariannya. Di waktu yang sama, seorang tukang parkir bercelana seadanya, kadang bercelana pendek, kadang bercelana panjang dengan bagian lutut sengaja dirobek, dilengkapi rompi berwarna hijau swallow di lengannya, bersiap menanti setiap kendaraan yang terparkir di depan toko retail tersebut. Manakah pekerjaan yang lebih baik? Jam sembila...

Kilas Cerita Home Learning

Gambar
Tiga minggu sudah anak-anak belajar di rumah akibat wabah pandemik Corona menjangkiti penduduk bumi, menyakiti Indonesia.  Selama tiga minggu pula tidak alpa guru, murid dan orang tua saling bertukar kabar. Saling bertanya tentang perkembangan belajar peserta didik. Saling memberikan informasi terkini tentang perkembangan dan kebijakan home learning. Maupun saling bertanya tentang kondisi kesehatan masing-masing. Semuanya tersiar dan terkabar melalui media sosial bernama Whatsapp group.  Semoga pahala jariyah melimpahi bapak-bapak dan ibu-ibu si pembuat whatsap. Semula pelaksanaan home learning berjalan dengan kondusif dan semestinya. Setiap hari minggu, guru memberi materi dan tugas-tugas terjadwal yang akan dilakukan dan dikerjakan oleh peserta didik melalui whatsapp group orang tua. Lalu orang tua mendapat tugas untuk mencetak lalu diberikan kepada anak setiap harinya dengan bimbingan orang tua. Kemudian setiap pagi guru memberikan rekondisi berupa mat...

Termenung Selepas Haha Hihi

Gambar
  via halodoc Setelah obrolan haha hihi kurang lebih 2 jam dengan salah seorang rekan kuliah di bilangan Tebet. Obrolan terjeda pada sebuah pertanyaan, "Kalo salah satu di antara kita, gak lama lagi meninggal gimana ya?" EH.. Makjlep. Seketika kehilangan nafsu untuk menghabiskan segelas caffe latte hangat yang baru tersaji di meja. Gue diem tapi gue mikir. Bener juga ya. Kira kira kalo gak lama lagi gue meninggal, gue meninggal dalam kondisi apa ya? Gue mikir lagi, kalo gue meninggal, apakah bekal menuju kematian udah cukup? Kalo gue meninggal, ilmu apa yang udah disampaikan ke orang lain? Kebaikan apa yang udah gue kasih buat sesama? Cukupkah bakti gue buat orang tua? Kalo dipikir ya, kita gak pernah alpa memikirkan agar bisa hidup enak hingga sering lupa untuk mempersiapkan mati yang enak, mati yang menyenangkan, mati dalam perjuangan yang baik, atau mati dalam keadaan bersujud di gelaran sajadah. Iya gak sih?  Bogor, 31 Maret 2020

Refleksi Penghujung Tahun, "Reparasi Pola Pikir"

Gambar
Manusia dan lupa adalah kesatuan. Seiring waktu, ingatan kita terhadap sesuatu akan memudar dengan sendirinya. Kita lupa kalau manusia bekerja untuk hidup, bukan hidup untuk bekerja. Kita lupa kalau mengajar itu untuk memenuhi kebutuhan jiwa, bukan untuk memenuhi kebutuhan perut. Kita lupa kalau hakikatnya kita menciptakan uang demi kebahagiaan bukan menciptakan uang hingga membunuh kebahagiaan. Kita lupa banyak hal. Jujur, aku berbicara ini bukan sebagai orang yang sudah benar perihal mengingat sesuatu. Justru sebaliknya, aku sering lupa banyak hal. Aku lupa, pada suatu ketika, diriku pernah berteriak lantang, berpeluh demi memperjuangkan apa yang kuanggap benar. Aku lupa, pada suatu ketika, diriku pernah memaki mereka yang terlalu sibuk mengisi perut dengan keserakahan, hingga tak mau lagi berpanas-panasan untuk membantu dan membela sesamanya. Aku lupa, pada suatu ketika, semestaku pernah kecil, hangat, dan bertemankan mereka yang hidup dengan kegelisahan diri tentang...