Postingan

Catatan Seorang Relawan #2

Gambar
Pengalaman pertama di selatan Jakarta amat menamparku. Menampar untuk menjalani fungsi sosial sebagai manusia, memberi manfaat bagi manusia lainnya.  Pukul 06.30 kami satu persatu tiba di titik kumpul, halte transjakarta Tosari.   Di Hari itu kami mendapat kesempatan untuk membantu teman-teman disabilitas dari Jakarta Barier Free Tourism (JBFT). Menurut pengamatan saya, JBFT itu kumpulan dari beberapa kekhususan disabilitas, seperti tunanetra, tunarungu, hambatan fisik, dan juga pengguna kursi roda.  Mereka berkumpul untuk satu tujuan, menginginkan fasilitas umum di Jakarta yang ramah bagi hak-hak disabilitas. Selama ini mereka merasa jalanan Jakarta amat buas bagi mereka. Ketika mereka beraktivitas seperti ke kantor, ke mall, mereka selalu dihantui rasa takut. Tidak ada jalanan untuk kursi roda, kala itu. Tunanetra kesulitan untuk berpindah dari satu tempat ke satu tempat secara mandiri. Tunarungu sering kali kehilangan arah ketika sedang berpergian dan ...

Catatan Seorang Relawan #1

Gambar
  Hingga waktu berkata 'pantas', maka perpisahan tak lagi berbuah tangisan. Meski perpisahan tak pernah terasa mudah. Momen hari ini, hari-hari menjelang perpisahan menjadi salah satu momok menakutkan yang selalu berulang bagi saya. Sebetulnya jika bisa memilih, rasanya tak usahlah ada hari perpisahan, dan tak usahlah ada rasa sedih di hari-hari perpisahan. Tapi Allah sudah menciptakan itu, maka nikmatilah. Dulu, momen enam tahun bersama sahabat kecil waktu di sekolah dasar, lalu berpisah selepas pengumuman ujian nasional, menciptakan rasa benci tapi juga rindu. Begitu juga momen perpisahan dengan sahabat 'nakal' ketika di SMP dan SMA. Bagaimana sama-sama berproses menjadi remaja tanggung yang ingin mencoba banyak hal sampai melanggar norma apapun yang ada di muka bumi, hingga seringkali juga merasakan kebersamaan dan kebahagiaan ketika berseberangan dengan orang tua terkait bagaimana harus bersikap. Lalu diujung waktu harus dipisahkan dalam sebuah momen ...

Rumit lalu Pamit

Januari, 2019 Hidup membentukku menjadi rumit. Namun, ada hati-hati baik yang dikirimkan Tuhan untuk membuat satu langkah lebih baik setiap harinya dengan cara yang sederhana. Di keremangan terbersit tanya, apakah aku melakukannnya karena benar-benar peduli atau mengikuti ego sebatas menghendaki diri menjadi bagian dari kepedulian sosial? Sebab perihal bahagia, tak perlu menjadi orang lain, jujur saja pada nuranimu. Sampai akhirnya, kita memilih untuk memperjuangkan apa yang kita rasa. Bukan memenuhi ambisi siapapun, bukan juga harus memaksakan semuanya bahagia dengan terpaksa. Karena bahagia letaknya di pintu rumah, ketika menjenguk rindu keluarga, ketika mengusap peluh ayah dan ibu di usia senjanya. Serta mendoakan pagi dan petang, memohonkan ampun atas segala khilaf. Coretan awal tahun, penanda akhir sesuatu. Denny Abdurrachman.

'manusia'

January 2019. Seiring berjalannya waktu, hidup mengajari untuk tak perlu menjadi aktivis, cukup menjadi 'manusia' saja. Boleh jadi, dengan menjadi 'manusia', lebih punya nilai keikhlasan, nilai kemanusiaan.  Boleh jadi juga lebih diridhoi Allah.  Sebab menasbihkan diri menjadi 'sesuatu' boleh jadi sebagai jalan pembuka datangnya keangkuhan. Mengikis ego diri karena merasa 'paling' itu sulit. Apalagi seperti saya ini, sejak dini sudah diajari untuk merasa paling ganteng. Betul bu Nunung Nurjanah ? Hehehehe

Krisis Identitas

Akhir-akhir ini, kata "jadilah diri sendiri" terdengar amat klise. Apakah seseorang bisa menjadi diri sendiri? Diri ini adalah hasil tempaan kehidupan, pemikiran dan inspirasi datang dari siapapun. Datang dari berbagai masalah yang mendewasakan diri. Sampai satu ketika aku beranggapan "jangan berusaha menjadi keren, berusaha saja menjadi baik dan jujur". Sebab, diluar sana banyak sekali orang yang merasa keren dengan mengikuti sekitarnya; memakai apa yang sedang keren, sampai melakukan hal-hal nyeleneh hanya karena ingin dianggap keren. Tapi, untuk menjadi jujur, itulah yang sulit. Setidaknya, jujur kepada diri sendiri, melakukan hal-hal yang memang diinginkan oleh hati nurani, meski harus dicemooh oleh orang lain.  "Karena hidup bukan untuk memuaskan birahi semua orang"  

Life Begins at The End of Your Comfort Zone

Gambar
via http://kupang.tribunnews.com Seringkali kita berpikiran "untuk apa aku berubah? Aku merasa hidupku baik-baik saja". Itu sangat wajar dan manusiawi ketika kita sedang terjerambab di zona nyaman. Tempat di mana semua baik-baik saja dan siapapun menerima kita apa adanya.  Kita berpikiran, tanpa perubahanpun hidup kita akan tetap baik-baik saja dan tidak mengalami kekurangan. Tapi.. itu hanya menurut kita.  Hidup kita akan begitu saja, tidak membaik secara signifikan. Teman kita akan gitu-gitu aja, kualitas bicara kita juga akan gitu-gitu aja, karena kita hanya terbiasa bicara dengan teman lama yang bahasanya dari dulu sampai sekarang sangat jauh dan manfaat, dan pencapaian hidup kita juga akan gitu-gitu aja.  Intinya, kita hanya bertahan di satu tempat sehingga tidak melihat bahwa hakikatnya dunia luar sedang berproses. Tolok ukur kita hanya lingkungan sekitar yang notabene sangat terbatas.  "Tapi kan saya sama teman-teman sering juga bepergian, ...

Touching Old Blog

Hallo... Alhamdulillah setelah sekian lama menjadi mahasiswa, tepat dua belas bulan yang lalu gue secara resmi menyandang gelar "Sarjana Pendidikan". Wuiiiiih tepuk tangan dong dikit, dikit aja. Muah. Waktu yang cukup lama ya dari mulai gue lulus sampai gue mulai mengisi waktu luang untuk nyorat-nyoret di di blog ini lagi. Hehehe gapapa lah yaaa. Btw, tiga bulan setelah gue menyandang gelar terhormat "S.Pd", gue resmi menjadi guru muda. Guru muda di salah satu sekolah di bilangan Jakarta Selatan. Ada yang tahu? sssst jangan kasih tau, nanti netizen pada tau.